Filsafat Suryomentaram: Satu Alnernatif Analisis Karya Sastra

Pendahuluan

Di Indonesia, khususnya di Jawa, sebetulnya ada teori psikologi maupun filsafat yang dikemukakan oleh seorang Jawa dengan corak yang tipikal Jawa. Teori yang dimaksud yaitu Kawruh Jiwa atau “Pengetahuan Jiwa” yang dikemukakan oleh Suryomentaram (1892-1962). Ada beberapa pandangan Suryomentaram yang terkadang memiliki kesamaan dengan psikoanalisis Freud dan sejumlah teori filsafat Barat lainnya. Akan tetapi, teori-teori psikologi maupun filsafat yang dikemukakannya jarang diketahui oleh orang Indonesia sendiri. Bahkan terkadang ada asumsi bahwa apa-apa yang datang dari Barat diangap selalu lebih baik dari apa yang dimiliki oleh bangsa sendiri.

Kawruh Jiwa yang disampaikan oleh Suryomentaram sebetulnya sudah banyak dibukukan. Paling tidak ada tiga penerbit yang membukukan pemikiran Suryomentaram tersebut seperti Inti Idayu Press (1986 tiga jilid), CV Haji Masagung (1991 tiga jilid dalam bahasa Jawa), dan yang terbaru Grasindo pada tahun 2002. Bahkan ada sejumlah peneliti yang mengkajinya untuk disertasi maupun tesis mereka seperti Dr. J. Darminto, S.J (untuk disertasi di Universitas Gregoriana, Roma, 1980) dan Darmanto Jatman S.U. (untuk tesis di UGM, Yogyakarta, 1985). Kini di internet telah ada websitenya.

Biografi Singkat

Suryomentaram dilahirkan di Kraton Yogyakarta pada 20 Mei 1892, anak ke-55 dari 79 putra-putri Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Waktu kecil bernama BRM Kudiarmaji. Ibunya bernama BRA Retnomandoyo, putri Patih Danurejo VI yang kemudian bernama Pangeran Cakraningrat. Semasa belajarnya, Suryomentaram pernah mengambil kursus Klein Ambtenaar, belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Arab. Pernah belajar mengaji agama Islam pada K.H. Achmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Juga sempat bekerja di gubernuran selama dua tahun lebih. Ia gemar membaca dan belajar, terutama tentang sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama.

Sebagai pangeran ia tidak mendapatkan kepuasan atau kebahagiaan hidup. Ia belum bertemu dengan orang-orang dalam arti yang sesungguhnya, ia hanya bertemu dengan para “topeng” di lingkungan kraton. Rasa tidak puasnya kian bertambah manakala ia menghadapi tiga kejadian: (1) kakeknya, Patih Danurejo VI—yang memanjakannya, diberhentikan dari jabatan patih dan tidak lama kemudian meninggal dunia; (2) ibunya dicerai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan dikeluarkan dari kraton, kemudian diserahkan kepada dirinya; (3) istrinya yang dicintainya meninggal dunia dan meninggalkan seorang putra yang baru berusia 40 hari. Rasa tidak puasnya makin menjadi-jadi, kemudian ia mengajukan permohonan kepada ayahnya untuk berhenti sebagai pangeran, tetapi permohonannya tidak dikabulkan. Pada kesempatan lain, ia mengajukan permohonan untuk naik haji ke Mekah, ini pun tidak dikabulkan.

Oleh karena sudah tidak tahan lagi hidup di lingkungan kraton, ia lalu pergi ke Cilacap menjadi pedagang batik dan setagen (ikat pinggang) dan berganti nama dengan Notodongso (Kudiarmaji pada usia 18 tahun bergelar Bendara Pangeran Harya Suryomentaram). Oleh Sri Sultan, diperintahkan untuk mencarinya dan memanggil kembali ke Yogya. Akhirnya ia ditemukan di Kroya sedang memborong mengerjakan sumur. Kemudian ia kembali ke Yogya meski telah terlanjur membeli tanah. Hatinya tetap merasa kecewa, ia belum menemukan manusia yang sesungguhnya. Karena mengira yang menyebabkan kekecewaannya itu (selain kedudukan sebagai pangeran), adalah harta benda, ia pun melelang seluruh isi rumah. Mobilnya dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada sopirnya, kuda dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada tukang kudanya, dan pakaian-pakaiannya dibagibagikan kepada pembantu-pembantunya. Akhirnya kerjanya hanya keluyuran ke tempat-tempat keramat untuk tirakat seperti: Luar Batang, Lawet, Goa Langse, Goa Cermin, Kadilangu, dan lain-lain. Itu pun belum bisa menghilangkan rasa tidak puasnya. Ia makin rajin shalat dan mengaji, tiap ada guru atau kiai yang terkenal pandai ia datangi untuk belajar. Bahkan ia mempelajari agama Kristen dan Theosofi. Hal ini pun tidak dapat menghilangkan rasa puasnya.

Sepeninggal Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dinobatkan sebagai raja pada 1921, ia tetap mengajukan permohonannya untuk berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran, dan dikabulkan. Oleh pemerintah Belanda ia diberi uang pensiun sebesar £ 333,50 per bulan, tetapi ditolaknya dengan alasan tidak merasa berjasa kepada pemerintah Hindia Belanda dan tidak mau terikat dengan Belanda. Ia malah menerima uang £ 75 per bulan dari kraton sebagai tanda masih keluarga kraton. Setelah berhenti sebagai pangeran, ia merasa lebih bebas, meski ia belum merasa bertemu dengan orang yang sesungguhnya. Ia membeli tanah di Bringin, Salatiga dan hidup sebagai petani. Sejak itu ia dikenal sebagai Ki Gede Suryomentaram atau Ki Gede Bringin. Waktu itu banyak yang menganggap lelaki yang suka berkalung sarung ini sebagai dukun, sehingga banyak yang datang berdukun. Meski telah tinggal di Bringin, ia masih sering ke Yogya karena masih punya rumah di Yogya.

Waktu Perang Dunia I baru selesai, Suryomentaram dan Ki Hadjar Dewantara beserta beberapa orang lainnya mengadakan sarasehan setiap Selasa Kliwon. Mereka membicakan masalah-masalah aktual yang dihadapi Indonesia. Pada 1922 Taman Siswa didirikan dengan berorientasi pada pendidikan kebangsaan. Ki Hadjar Dewantara dipilih sebagai ketua, Ki Gede Suryomentaram diberi tugas mendidik orang-orang tua. Pada pertemuan tiap Selasa Kliwon inilah oleh Ki Hadjar Dewantara, namanya diubah menjadi Ki Ageng Suryomentaram. Setelah menjadi duda selama 10 tahun, pada 1925 ia kawin lagi. Beserta keluarganya ia pindah ke Bringin, sedangkan rumahnya yang di Yogya dipergunakan untuk asrama dan sekolah Taman Siswa. Begitulah pada masa-masa berikutnya Suryomentaram terlibat dalam berbagai peristiwa sejarah, termasuk bergerilya pada masa perang kemerdekaan memberikan pemikirannya mengenai wawasan masalah negara kala diundang ke istana kepresidenan 1957 oleh Sukarno.

Kurang lebih 40 tahun Ki Ageng Suryomentaram menyelidiki alam kejiwaan dengan menggunakan dirinya sebagai “kelinci percobaan”. Dari penyelidikannya inilah kemudian tertuang pemikiran-pemikirannya yang sering disebut dengan Kawruh Jiwa itu. Ajarannya ini tersebar berkat teman-temannya berdiskusi yang menyebarkannya kepada orang lain maupun lewat penerbitan buku atas pemikirannya. Pada 18 Maret 1962, ia tutup usia di rumahnya, Jl Rotowijayan no 22 Yogya dan dimakamkan di makam keluarga di desa Kanggotan, sebelah barat Yogya. Ki Ageng Suryomentaram meninggalkan seorang istri, dua orang putra dan empat orang putri.

Inti Ajaran Suryomentaram

Ada beberapa pengertian khusus yang dikemukakan secara khusus oleh Suryomentaram dalam Kawruh Jiwa, seperti: kramadangsa, mulur-mungkret, manusia semat-kramat-drajat, zaman windu-kencono, dan sejumlah istilah khusus lainnya. Suryomentaram menyampaikan kawruh-nya atau pengetahuannya kepada sahabat-sahabatnya mencakup topik yang sangat luas dan menyeluruh, meliputi semua aspek kehidupan manusia. Hal-hal ontologis yang pernah dikemukakannya adalah sebagai berikut:

Pertama, barang yang ada itu abadi. Artinya, dulu ada, kini ada, dan kelak ada juga. Barang yang tidak ada kemudian menjadi ada, dan yang ada menjadi tidak ada merupakan suatu hal itu tidak mungkin. Hal itu mirip seperti memikirkan dua kali dua sama dengan lima. Memikirkan barang yang ada menjadi tidak ada, tentu menimbulkan pertanyaan: ke mana hilangnya? Jadi, barang yang ada itu abadi; dulu ada, kini ada, kelak juga ada. Jika orang percaya bahwa barang yang tak ada bisa menjadi ada, dan barang yang ada bisa menjadi tidak ada, kacaulah pikirannya. Segala sesuatunya kemudian menjadi tidak berketentuan yaitu patokan ketakhayulan. Karena ia percaya barang yang tidak ada bisa ada, ia bahkan percaya seorang bayi bisa menjadi seekor kambing, dan semua orang yang bedosa akan bertanduk. Watak orang takhayul ini suka bertapa atau berpantang yang aneh-aneh seperti merendam diri, membawa jimat, bersemadi, pantang makan, pantang tidur, pantang senggama, pantang menginjak tanah, dan sebagainya.

Adapun yang dianggap barang yang tidak ada menjadi ada, dan barang yang ada menjadi tidak ada ialah barang jadi (dumadi) atau barang adonan (bentukan), seperti cangkir, piring, rumah, gunung, bintang, bulan, matahari dan sebagainya. Barang jadi ini bersifat tidak tetap adanya. Yang bersifat tetap adanya, ialah barang asal, yakni zat. Misalnya cangkir, sebelum jadi, cangkir itu tidak ada. Tapi asalnya cangkir sudah ada. Setelah cangkir itu dibentuk, ia menjadi ada, tapi bersifat tidak tetap. Bila cangkir itu pecah, bentuk cangkir itu tidak ada, namun asalnya tetap ada. Oleh karena itu, barang jadi itu bisa ada, bisa tidak ada; atau jadi, rusak, jadi, rusak. Pada diri manusia, rasa yang identik dengan namanya sendiri pun termasuk barang jadi atau adonan. Jika ia bernama si Suta, ia merasa aku si Suta. Jika ia bernama Naya, ia merasa aku si Naya. Rasa namanya sendiri ini, oleh Suryomentaram diberi istilah “Kramadangsa”.

Kramadangsa ini dibentuk dari kumpulan catatan-catatan pengalaman, yaitu Kramadangsa yang lahir di tempat tertentu, pada hari-bulan-tahun tertentu, dan mengalami hal-hal tersendiri. Jumlah catatan-catatan itulah yang membentuk Kramadangsa, si ingat. Sebagai barang jadi, Kramadangsa bersifat tidak abadi, berbeda satu sama lain; bisa jadi, bisa rusak. Oleh karenanya, ia mempunyai rasa iri hati, sombong, sesal, khawatir yang kesemuanya termasuk rasa celaka.

Rasa “Aku” ialah barang asal yang bersifat sama. Rasa “Aku” inilah yang melahirkan rasa tentram dan tabah yakni rasa bahagia. Tetapi bila rasa “Aku” ini lebur dengan Kramadangsa, orang selalu merasa “Aku Kramadangsa” dan lebur pula dengan watak Kramadangsa sehingga ia merasa “Aku Kramadangsa”, aku iri hati, aku sombong, aku menyesal, aku khawatir, aku menderita, aku celaka. Akan tetapi bila orang berdiri sendiri, bebas dari Kramadangsa, ia lalu merasa “Aku bukanlah Kramadangsa”. Bebaslah pula ia dari watak Kramadangsa sehingga timbul rasa aku tentram, aku tabah dan aku bahagia. Keadaan barang jadi tergantung pada adonannya (bahannya). Bila adonannya diganti, bergantilah keadaannya. Rumah bila salah satu tiangnya patah, ia akan reot. Kramadangsa bila dompetnya diisi uang, ia segera girang, mukanya gembira, jalannya pethenthang-pethentheng, lagaknya congkak. Hatinya berkata, “Hidup ini benar-benar senang, kalau ada yang tidak senang, ia bodoh sendiri.” Tetapi bila uangnya diambil, ia lalu sedih, pucat mukanya, lunglai jalannya dan putus asa, lalu katanya, “Bagaimanapun aku telah berdaya upaya, namun celaka juga.” Begitulah ciri-ciri Kramadangsa.

Kedua, wujud barang yang ada ialah zat, keinginan dan Aku. Zat, keinginan dan Aku ialah barang asal yang bersifat tanpa cacah, tak terlihat dengan mata, tanpa tempat dan tanpa zaman (bebas waktu). Oleh karena itu, ia tidak dapat ditanyakan berapa, bagaimana, di mana dan kapan. Zat itu ada, tidak terasa dan tidak dapat dapat dirasakan adanya. Keinginaan itu ada, dapat dirasakan, tapi tidak terasa adanya. Aku itu ada, dapat dirasakan dan terasa adanya.

Zat ialah asal barang jadi, mengadakan barang jadi, melahirkan barang jadi. Barang jadi tidak bisa lain pasti berasal dari zat. Zat melahirkan segala barang jadi dengan bercacah, dapat dilihat mata, bertempat, dan berzaman. Barang jadi dapat ditanyakan berapa jumlahnya, bagaimana rupanya, di mana tempatnya, kapan zamannya. Zat selalu melahirkan barang jadi sehingga selalu ada barang jadi, yang bersifat: jadi, rusak, jadi, rusak. Misalnya, ada cangkir yang jatuh hingga pecah, lalu rusak menjadi beling. Beling itu ditumbuk hingga hancur, rusak, lalu menjadi bubuk beling. Demikian seterusnya kejadian itu selalu ada. Adapun barang jadi selalu kalau tidak bergerak tentu diam. Setiap bergerak atau diam, tentu terdorong oleh daya. Daya inilah yang menggerakkan atau mendiamkan barang jadi. Oleh karenanya abadi. Kalau daya tidak abadi, akan terjadi barang jadi tidak bergerak dan tidak diam. Hal demikian tidak mungkin terjadi. Daya itu dalam diri manusia, disebut keinginan, yaitu yang menginginkan raganya bergerak atau diam. Oleh karena itu, keinginan tersebut abadi.

Keinginan ialah asal gerakan, melahirkan gerakan dan mengadakan gerakan. Gerakan tidak mungkin tidak dari keinginan. Gerakan itu bercacah, dapat dilihat mata, bertempat dan berwaktu sehingga dapat ditanyakan berapa, bagaimana, di mana dan kapan.
Hidup ialah gerakan, maka keinginan ialah asal kehidupan, mengadakan kehidupan, melahirkan kehidupan. Hidup berupa gerak dan diam. Pohon kelapa seutuhnya itu diam, namun di dalamnya bergerak; menumbuhkan daunnya, bunganya dan buahnya. Gerak dan diam itu berasal dari keinginan, maka keinginan selalu melahirkan kehidupan. Hal inilah yang mengabadikan hidup yang bersifat gerak dan diam, atau lahir dan mati.

Sebagai contoh, orang duduk lalu berdiri, artinya gerakan duduk mati, kemudian lahir gerakan berdiri. Berdiri lalu berjalan, artinya gerakan berdiri mati, lahir gerakan jalan. Demikian seterusnya gerak dan diam, atau hidup dan mati itu abadi. Sifat keinginan itu abadi, yakni sebentar mulur, sebentar mungkret (menyusut), sebentar mulur sebentar mungkret. Rasanya pun abadi, yakni sebantar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.

Orang berpenghasilan tiap bulan Rp 100.000 itu mempunyai keinginan berpenghasilan lebih tinggi, ia ingin berpenghasilan Rp 200.000. Inilah yang namanya mulur. Bila keinginannya terpenuhi, dapat berpenghasilan Rp 200.000, ia mulur lagi ingin berpenghasilan Rp 500.000. Bila telah terpenuhi, ia akan mulur lagi ingin berpenghasilan Rp 1.000.000; dan bila telah terpenuhi lagi, ia akan mulur lagi, ingin berpenghasilan Rp 5.000.000. Begitulah keinginan manusia selalu mulur dan tidak akan ada batasnya. Sebaliknya bila keinginannya untuk berpenghasilan Rp 5.000.000 per bulan tidak terpenuhi, tetapi hanya terpenuhi Rp 3.000.000 saja; ia pun akan menerimanya. Inilah yang dinamakan mungkret. Bahkan ketika keinginannya itu hanya terkabul berpenghasilan Rp 500.000 saja ia pun menerimanya juga. Ia mungkret juga. Begitulah hidup manusia selalu mulur dan mungkret.

Setiap kali keinginannya mulur dan tercapai, maka senanglah orang itu. Akan tetapi, jika tidak tercapai ia akan susah. Namun bila keinginannya kemudian mungkret dan menerima seberapa pun penghasilannya, ia pun akan senang. Begitulah irama orang hidup itu pun penuh dengan: senang, susah, senang, susah.

Contoh Penerapan dalam Analisis Karya Sastra

Nurhadi dan Dian Swandayani (2005) pernah melakukan penelitian sastra dengan menerapkan filsafat Suryomentaram ini untuk menganalisis novel Indonesia modern yang berlatar Jawa, yakni pada novel Pasar karya Kuntowijoyo (1994) dan novel Jalan Menikung karya Umar Kayam (1999). Dari hasil penelitian tersebut ditemukan kesimpulan sebagai berikut.

Pertama, tokoh utama protagonis novel Jalan Menikung yaitu Eko, Claire, dan Harimurti. Tokoh utama antagonisnya yaitu Tommi. Latar cerita novel ini terjadi di sekitar New York, Jakarta, dan suatu kabupaten yang disebutnya dengan Wanagalih. Peristiwa dalam novel ini berlangsung sekitar tahun-tahun pasca G-30/S 1965, dengan latar sosial berupa kehidupan keluarga Jawa trah Sastrodarsono yang masih tergolong kaum priyayi Jawa. Tokoh utama protagonis novel Pasar yaitu Pak Mantri, Paijo, dan Siti Zaitun. Tokoh utama antagonisnya yaitu Kasan Ngali. Latar cerita novel ini terjadi di seputar pasar kecamatan di wilayah Jawa yang disebutnya dengan Pasar Gemolong. Latar sosial yang melandasi peristiwa-peristiwa dalam novel ini yaitu kondisi masyarakat kelas bawah, yakni para pedagang pasar.

Kedua, konflik antar-kramadangsa yang terjadi dalam novel Jalan Menikung yaitu berupa pententangan antara kramadangsa manusia semat yang diwakili oleh keluarga besar Tommi, termasuk Jeanette, Bambang, Marie dan Maridjan yang terlalu mengagungkan harta kekayaan dalam kehidupan. Pandangan mereka berseberangan dengan tokoh-tokoh dari keluarga Harimurti (termasuk Harimurti sendiri, Eko, dan Lantip) yang priyayi dan memandang orang-orang bertipe semat semacam Tommi sebagai orang yang eksentrik. Konflik antar-kramadangsa yang terjadi dalam novel Pasar juga melibatkan pertentangan antara orang yang bertipe semat (manusia yang mengagungkan harta benda), yakni Kasan Ngali dengan orang-orang lain di pasar itu, khususnya dengan Pak Mantri, seorang priyayi yang tergolong sebagai manusia drajat, yakni orang yang lebih mengagungkan status sosial). Hingga akhir cerita Kasan Ngali masih berkonflik dengan dirinya sendiri atau dengan kramadangsa-nya, sementara Pak Mantri telah menyadari kekeliruan dirinya (baca: kramadangsa-nya) sehingga dia terbebas dari berbagai konflik, baik konflik batin maupun konflik dengan orang lain. Di akhir cerita Pak Mantri menemukan kedamaian dalam memasuki masa-masa pensiunnya sebagai mantri pasar.

Ketiga, baik Kayam maupun Kuntowijoyo dalam masing-masing novelnya menawarkan suatu nilai bahwa dalam tradisi Jawa, seseorang hendaknya jangan terlalu mengagungkan pada pandangan (gila) harta. Pandangan tersebut merupakan pertentangan terhadap gaya hidup kaum santri (yang secara jelas muncul dalam karakter nama Kasan Ngali) dan lebih menganjurkan pada gaya hidup kaum priyayi (yang diwakili oleh Pak Mantri maupun oleh keluarga besar Harimurti) yang dianggap mewakili tradisi Jawa. Hal tersebut memang cukup berasalan, karena dalam kehidupan nyata, baik Kayam maupun Kuntowijoyo, keduanya sama-sama berprofesi sebagai dosen yang notabene mewakili kaum priyayi. Hanya secara umum, tokoh yang mengagungkan status sosial atau manusia kategori drajat (yang jelas-jalas tampak pada diri Pak Mantri pada bagian awal cerita) maupun manusia kramat, pada dasarnya tidak akan menemukan kebahagiaan selama mereka masih terkungkung oleh kramadangsa-nya masing-masing yang menuntut berbagai hal. Kramadangsa itu bersifat mulur-mungkret. Baik novel Kayam maupun novel Kuntowijoyo, secara tidak langsung telah mengajarkan apa yang selama ini disampaikan oleh Suryomentaram yang terkenal dengan istilah Kawruh Jiwa, meski hanya sebagian.

Penutup

Berbeda dengan kajian filsafat ataupun psikologi Barat yang melihat objek kajian ataupun pasien sebagai target pasif, ajaran Suryomentaram memposisikannya secara lebih aktif. Jika kita menjadi pasien yang mau berkonsultasi kepada seorang psikolog, kita seakan-akan menjadi objek yang dikaji oleh seorang ahli dan menuruti segala resep maupun teknik penyembuhan atas gangguan kejiwaan tersebut.

Suryomentaram mengajarkan setiap manusia dapat menyembuhkan dirinya sendiri, asalkan ia terbebas dari kramadangsa-nya dan bahkan melihat kramadangsanya sendiri maupun kramadangsa orang lain dengan aku-nya sendiri. Setiap aku manusia di dunia sama; yang membedakan antara satu orang dengan orang lain adalah kramadangsa; kramadangsa-lah yang membuat manusia tidak pernah bahagia, tidak pernah puas, selalu merasa celaka. Jika seseorang bisa melihat ke-aku-annya, maka ia akan keluar dari segala rasa celaka dan akan menemukan rasa kebahagiaan yang sesungguhnya, bahagia dengan apa yang ada sekarang, di sini, dan seperti ini.

Terlalu singkat untuk menjabarkan semua ajaran Suryomentaram yang membahas segala aspek kehidupan manusia, mulai dari kramadangsa, tipe-tipe manusia (semat, kramat, drajat) bahkan hingga permasalahan nasionalisme (permasalahan yang menurut Benedict Anderson sebagai imagine comunities). Membaca buku-buku yang menguraikan pemikiran Suryomentaram dapat menutup kekurangan ruang pembahasan yang terbatas ini. Selain itu, filsafat Suryomentaram juga merupakan salah satu “pisau bedah” yang dapat dipergunakan untuk menganalisis kehidupan realitas manusia ataupun realitas kehidupan dalam karya sastra.


________________________________________________________________________


FILSAFAT SURYOMENTARAM: SATU ALTERNATIF ANALISIS KARYA SASTRA
Oleh: Nurhadi

Artikel no 46 dimuat di Jurnal Kreativa, Jurnal Mahasiswa FBS UNY edisi April 2007; kode:
filsafat suryomentaram

Makalah R.Ng. Ranggawarsita

RADEN NGABEHI RANGGAWARSITA
Oleh:  Ki Herman Sinung Janutama


PENDAHULUAN

“Jinarwa-Jawi” 

Saya menyusun makalah ini semula hanya mengikuti permintaan panitia diskusi di Salihara. Beberapa catatan diberikan kepada saya. Seperti, bagaimana “persenyawaan” antara Islam dengan Kejawen? Bagaimana ajaran Ranggawarsita mengenai hal tersebut? Apa inti dari ajaran Ranggawarsita? Dan seterusnya, dan seterusnya. Bagi orang awam yang bernaung di bawah lindungan tradisi, seperti saya ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut jelas-jelas keliru. Terdapat beberapa alasan mengapa saya menyatakan demikian. Pertama, pertanyaan tersebut berangkat dari anggapan bahwa “Islam” dan “Kejawen” atau Jawa adalah dua hal berbeda. Bahwa pembahasan keduanya harus mengikuti definisi kekinian yang gayut terhadap imperative category modern. Bagi saya, tentu saja hal ini sangat memberatkan. Betapa tidak? Jawa, kejawen, Islam, muslim, mukmin, harus dijelaskan dalam kerangka definisi-definisi demikian itu. Lha, terus bagaimana mungkin kita memahami term-term itu menurut makna yang dimaksudkan oleh budaya Jawa (Nuswantara) itu sendiri? 

Jika operasi tersebut di atas kita gunakan, pasti anda akan mendapati simpulan yang tidak proporsional, jika bukan ala western. Orang Jawa bilang, simpulan cara landa atau wong sing kamilandanen. Artinya, simpulan-simpulan yang diperoleh dalam perspektif “kacamata” pinjaman. Bukan kacamata pengetahuan kita sendiri. Bukankah budaya Jawa atau Nuswantara itu budaya kita sendiri? Mengapa tidak kita pahami dari perspektif Jawa atau Nuswantara itu sendiri? 

Kedua, maka saya tidak menginjak ranah pikiran sinkretik. Karena ia merupakan persenyawaan atau intersep dua “himpunan” berbeda. Melainkan saya mengikuti cara pandang leluhur. Bahwa Islam sejak dulunya disampaikan ke seluruh dunia mengikuti asas “bi lisani qoumihi” tidak melulu harus kaku mengikuti “lisaanan arobiyyan mubin”. Jadi, ia mengikuti asas di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Atau, dalam lisan Jawa bisa ajur ajer. Gejala ini mengisyaratkan adanya operasi konversi, dari lisan Arab ke lisan Jawa, atau secara umum lisan Nuswantara. Itulah sebabnya dalam lingkungan Jawa, terdapat pepatah wong jawa panggone semu. Semu artinya qiyas, konversi substitutif. Sementara istilah ja-wa itu sendiri memiliki pengertian yang-mengerti, yang-tahu, atau yang-memahami. Yakni yang-memahami konversian-konversian tersebut. Dengan kata lain, dalam pandangan orang Jawa, agama adalah budaya dan budaya adalah agama. Hal ini dikarenakan budaya Jawa atau Nuswantara adalah abstraksi dan inisiasi dari nilai-nilai agama itu sendiri.

Itulah sebabnya saya ingin menyajikan kajian budaya Jawa–dalam hal ini Ranggawarsita—dari tradisi paramasastra atau jinarwa Jawi itu sendiri. Dari cara kajian sebagaimana dicontohkan oleh leluhur Jawa atau Nuswantara yang tersebar dalam berbagai teks kejawen. Inilah yang disebut alam kapujanggan Jawi. Di dalamnya terdapat banyak model operasi demi menggali maknanya (jinarwa). Kali ini saya hanya menggunakan beberapa saja di antara operasi-operasi tersebut. Yakni operasi jinarwa dasanama, jarwadhosok, kiratabasa, dan garba.

Dasanama artinya sinonim, padanan, maupun persamaan kata dan istilah. Dalam bahasa Jawa satu kata tidak hanya memiliki satu atau dua padanan dan persamaan kata atau istilah. Melainkan bisa memiliki banyak sekali padanan dan persamaan kata atau istilah. Misalnya, barat= angin= arah barat= kulon, dst.

Jarwadhosok artinya memaknai kata atau istilah, khususnya memaknai dalam kerangka “dhosok” atau kebaktian kepada Tuhan YME. Operasi ini mirip uthak-athik-gathuk, namun gayut terhadap “persangkaan baik” atau husnudzon. Misalnya, barat= kulon= huluwan= yakni “asal muasal” perjalanan hidup manusia dalam rangka mencari dan menelusuri makna hidupnya.

Kiratabasa artinya memaknai kata atau istilah dengan kata atau istilah yang sekiranya mirip. Misalnya, barat (angin)= barata (keluarga)= brata (besar)= branta= brangta (cinta).

Garba adalah penggabungan dan pemisahan dua atau lebih kata dan istilah. Dalam bahasa sansekerta sering disebut sebagai sansandhi. Konsekuensi dari operasi ini adalah jumbuhnya dua suku kata yang sama. Misalnya, nuswantara= nuswa+swa+(sw)anta+tata+tara.

Sesungguhnya masih banyak lagi operasi-operasi bahasa dalam alam kapujanggan Jawi. Namun diskusi ini mencukupkan diri dengan mengoptimalkan empat operasi tersebut di atas.

Raden

Kata raden berasal dari kata rahadian atau roh-adi-an. Roh= ruh, suksma. Adi= luhur, mulia. Kata raden ini juga setara dengan radin= rasa, perasaan. Kata raden juga mengacu pada kata radya= negeri, keraton, atau pemangku negeri. Gelar umum bagi para bangsawan jawa (Nuswantara) ini dahulunya berarti pemangku negeri yang telah mencapai keluhuran ruhani dan kemuliaan akhlak. Bahkan juga telah mencapai “ketajaman perasaan” dan kelembutan hati nurani. Gelar ini juga dahulunya menunjuk kepada kewajiban para pemangku negeri, yakni para bangsawan atau pangeran di tanah jawa untuk memiliki komitmen moral dan spiritual. Sedemikian rupa sehingga mereka proporsional dalam memposisikan diri sebagai panutan moral, akhlak, dan budi pekerti bagi warga masyarakatnya. Kata pangeran itu sendiri berasal dari kata pa+ngenger+an. Di mana ngenger= nderek, ngawula, atau mengabdi melayani junjungan. Maka kata pa+ngenger+an berarti tempat mengabdi dan menghamba warga masyarakatnya. Pengabdian dan penghambaan dari warga, akan memperoleh imbal balik berupa pengayoman, perlindungan dan pendidikan dari para “pangeran” tersebut.

Diktum ini sangat berbeda dengan feodalisme eropa. Para pangeran atau prince= lord= count di Eropa secara umum mendasarkan diri pada penguasaan tanah dan wilayah. Secara lebih luas semata-mata melandaskan diri pada kepentingan politik dan ekonomi. Oleh karena itu komitmennya bersifat eksploitatif dan kontradiktif. Tuan-hamba, aristokrat-rakyat, kapitalis-buruh, dll. Upaya-upaya memaksakan similarisasi atas dua fakta budaya berbeda tersebut menurut hemat saya merupakan kekejaman, jika bukan kejahatan.


Ngabehi

Kata ngabehi pada gelar raden ngabehi secara langsung menunjukkan posisi yang bersangkutan sebagai tokoh sesepuh atau orang yang dituakan oleh keraton (sultan atau susuhunan). Sebagai contoh gelar kebangsawanan pada mendiang GBPH Sandiya, yakni seorang ulama di Mlangi, Ngayogyakarta. GBPH pada gelar ini kepanjangan dari Gusti Bendhara Pangeran Hangabehi. Beliau diposisikan sebagai kakak, atau sesepuh, atau saudara tua oleh mendiang Sri Sultan Hamengku Buwana al awwal (pertama, 1755-1812). Sebaliknya, adalah gelar raden-harya. Kata harya pada gelar ini menunjuk kepada posisi yang bersangkutan sebagai adik, atau saudara muda dari karaton atau sultan. Sebagai contoh, gelar GBPH pada adik-adik Sri Sultan HB X (dinobatkan 1989), yakni Gusti Yudaningrat, atau Gusti Jayakusuma. GBPH pada gelar ini merupakan kepanjangan dari Gusti Bendhara Pangeran Harya.

Dari numenklatur pada tradisi gelar ini, kita dapat melihat posisi Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-73), setidaknya di kalangan kraton Surakarta Hadiningrat dan budaya Jawa pada umumnya. Pada tahun 1844, 14 tahun setelah perang Jawa (sabilolah Dipanegara), Karaton Surakarta Hadiningrat mengangkat Ranggawarsita (42 tahun) sebagai Penewu Carik Kadipaten Anom, atau Kliwon Carik, atau Pujangga Karaton, dengan gelar resmi Raden Ngabehi Ranggawarsita. Apa maknanya?

Ranggawarsita

Kakek buyut Raden Mas Burhan adalah Pangeran Wijil dari lingkungan ulama Kadilangu, Demak Bintara. Beliau adalah pelestari Kitab Jayabaya Kidung, dengan menuliskannya kembali dari tradisi lisan. Jika silsilah Pangeran Wijil ini diteruskan ke atas lagi, ayah Pangeran Wijil adalah Tumenggung Tirtawiguna, kakeknya adalah Tumenggung Sujanapura, seorang pujangga di Kraton Pajang. Yakni era Sultan Hadiwijaya (1580-an). Tumenggung Sujanapura adalah putra dari Panembahan Tejowulan di Jogorogo (sekitar kota Sragen sekarang). Panembahan Tejowulan adalah putra dari Raden Arya Pamekas. Raden Arya Pamekas adalah putra dari Raden Patah atau Bagus Kasan atau Syah Alam Akbar. Bagus Kasan, atau Raden Patah, atau Pangeran Jinbun, ini adalah putra dari Prabhu Brawijaya V, sultan terakhir Majapahit.

Keturunan dari Pangeran Wijil adalah Raden Ngabehi Yasadipura I. Raden Ngabehi Yasadipura I berputra Raden Ngabehi Yasadipura II pujangga di lingkungan Kraton Surakarta. Namun Yasadipura II ini juga seorang senapati tempur era perang sabilolah Dipanegara (1825-30). Beliau memimpin pertempuran di wilayah timur pesisir utara Jawa, bergelar Raden Tumenggung Sastranegara. Seusai peperangan, Tumenggung Sastranegara tertangkap oleh kumpeni dan dihukum mati di Batavia. Beliau dimakamkan dengan nama kecilnya—yakni Sayyid Abubakar—di kompleks pemakaman keramat Luar Batang, Jakarta.

Sesungguhnya peran Mas Burhan tak beda dengan ayahnya, Sayyid Abubakar, maupun leluhur-leluhurnya. Nama Ranggawarsita berasal dari kata rangga+warsita. Rangga= senapati, panglima, komandan pertempuran. Warsita= wacana, wejangan, pengetahuan hidup, episteme. Nama ini secara langsung menunjukkan bahwa para pemimpin tanah Jawa mengubah strategi peperangannya melawan kumpeni. Selepas peperangan fisik di perang Jawa/Dipanegara, maka peperangan dengan kumpeni berubah bentuk menjadi peperangan pengetahuan. Itulah sebabnya mengapa Mas Burhan diberi gelar R Ng. Ranggawarsita, bukan Yasadipura III. Dan hal ini terbukti dengan bangkitnya semangat menuliskan kembali peninggalan pengetahuan Jawa. Bersamaan era atau masa dengan R Ng. Ranggawarsita adalah Kangjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara IV (1809-81) dari Pura Mangkunegaran, Surakarta.

Perlawanan epistemik ini diikuti pula dengan strategi para pemimpin tanah Jawa untuk mengirimkan ulama-cendikiawannya ke sekolah-sekolah di mancanegara. Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat, mengirimkan para ulama-cendikiawannya ke Mekah untuk menyempurnakan pengajaran dan penyebaran agama Islam. Di Mekah mereka membantu proses belajar-mengajar di Gedung Wakaf Mataram, sedangkan di Kitab Jayabaya muncul sekitar 1157 setelah itu selama ratusan tahun mengendap menjadi tradisi lisan di kalangan bangsawan. Muncul kembali dalam bentuk Kitab Asrar, setelah disusun ulang oleh Kangjeng Sunan Giri Sepuh sekitar 1400. Setelah itu kembali mengendap menjadi tradisi lisan di kalangan bangsawan. Disusun kembali menjadi Kitab Jayabaya Kidung oleh Pangeran Wijil sekitar 1740. Penyusunan ini diikuti oleh pujangga-pujangga keraton Kartasura.

Pada abad ke-14, setiap orang termasuk para petinggi dan para walyullah, lazim memiliki 3 versi nama. Sunan Kalijaga misalnya, bernama arab Raden Mas Sahid, bernama tionghoa Oei Sam Iek. Sunan Ngampel (nama Jawa), juga bernama Raden Rakhmat Makhdum (arab), dan Tan Go Hwat (nama tionghoa). Sunan Gunungjati (nama Jawa), juga bernama Syarif Hidayatullah (nama arab), dan Tan Beng Hwat (nama tionghoa).

Namun strategi kebudayaan peradaban Jawa (Nuswantara) ini sepertinya diketahui oleh kumpeni. Mereka menghadapi ekspansi pengetahuan tradisi ini dengan antisipasi berupa gerakan etische politiek. Yakni semacam gerakan “balas budi” semu, dengan mendirikan sekolah rendah untuk pribumi. Namun sifat sekolah ini semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pegawai negri rendahan dalam lingkungan administrasi kumpeni. Kumpeni menembak mati R Ng. Ranggawarsita yang dianggap terlalu berbahaya bagi kolonialisme. Maka sang panglima peperangan pengetahuan Jawa itu gugur pada 24 Desember 1873, atau 5 Dulkangidah 1802 Jawa. Beliau mengikuti jejak ayahnya dan leluhur-leluhurnya sebagai rangga atau komandan pertempuran. R Ng. Ranggawarsita di makamkan di desa Palar, kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Sandyasma: 

Kala Tidha atau Kala Bendu

R Ng. Ranggawarsita sendiri telah memberikan keterangan perihal tujuan hidup dan karyanya. Hal ini terdapat pada dua sandyasma pada Serat Jaka Lodhang dan Serat Sabda Jati. Sandyasma berasal dari dua kata sandi+asma. Sandi= sasmita= sandi, kode, tanda yang mengarahkan makna. Asma= aran= jeneng= nama= asma. Jadi nama ranggawarsita itu sendiri telah memberikan clues mengenai tujuan hidup dan karya sang pujangga.

Rongeh jleg tumiba
Gagaran santosa
Wartane meh teka
Sikara karodha
Tatage tan katon

Barang-barang ngerong
Saguh tanpa raga
Katali kawawar
Dhadhal amekasi
Tonda murang tata

Eh, eh, tiba-tiba saja datangnya
kabar gempar yang sangat meyakinkan
mengabarkan hampir tiba saatnya
angkara yang semula terlindas
ketegarannya yang semula lenyap
materialnya yang semula menyembunyikan diri
kehebatannya yang semula tak bisa dinyatakan
yang semula terikat kuat terlepaskyahi lokal keluarga Ibnu Wahhab.
menghambur tanpa batas
tanda mulanya segala kekurangajaran

Sebait gurit atau puisi di atas terdapat dalam Serat Jaka Lodhang. Tujuan hidup dan karya sang Pujangga R Ng. Ranggawarsita ingin mengabarkan sesuatu yang-buruk yang akan menimpa peradaban manusia. Bahwa angkaramurka yang mengandung kecurangan, kelicikan, yang-asusila, dan materialisme akan mendunia dan merajalela. Angkaramurka akan menjadi grand-narrative dunia. Angkaramurka akan menjadi orde global di seluruh dunia. Inilah yang disebut sebagai kala tidha yang artinya jaman serba ragu-ragu. Jaman ini disebut juga oleh eyang Prabhu Jayabhaya sebagai kala bendu. Artinya, jaman edan yang serba celaka, serba bencana, serba prahara. Sedangkan Sultan Pabhu Brawijaya V (1478) menengarainya dengan sesantinya yang sangat terkenal: sirna ilang kertaning bhumi.

Di samping itu jika suku kata terdepan dan terakhir disusun dari atas ke bawah, diperoleh kalimat RONGGAWARSITA BASA KADHATON dan BASA KADHATON RONGGAWARSITA. Artinya, sang pujangga Ranggawarsita mengemukakan basa kadhaton. Basa= bahasa= pengetahuan= kebijaksanaan. Kadhaton dari ka+dhatu+an, di mana dhatu artinya sepuh= tua= tetua= generasi awal mula. Makna dari kalimat ini adalah bahwa sang pujangga R Ng. Ranggawarsita bermaksud mengemukakan kembali pengetahuan-pengetahuan atau kebijaksanaan para ulama, cerdik pandai yang telah menjadi pegangan hidup manusia sejak dahulu kala. Ini adalah pengetahuan kebijaksanaan kuno, scientia sacra, atau atsatiruuna al awwaliin.

Megatruh

Haywa pegat ngudiya ronging budyayu
Margane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang taberi prihatos
Jangan sampai terputus mencari sumber keindahan budi pekerti
Jalan bagi kebahagiaan dan keselamatan hidup
Terlepas dari hasrat keinginan
Terjauhkan dari amal menyesatkan
Dengan tekun melakukan prihatin

Bait gurit ini terdapat dalam Serat Sabda Jati. Serat ini menjelaskan bagaimana jalan hidup manusia agar bisa selamat hidup di dalam jaman kala bendu, kala tidha, atau jaman edan. Hal demikian ini juga pernah dikumandangkan oleh Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Gadjahmada (1328), setengah abad sebelumnya. Yakni dengan sumpah tanayun amukti palapa. Tanayun= meninggalkan hasrat kehendak terhadap gemerlapnya dunia, atau ziinata al hayata addunya’. Amukti= prihatin, bersakit-sakit. Palapa= pa+lapa= pala+lapa= membaktikan diri kepada Tuhan YME dengan berpuasa sepanjang hayat.

Ajaran Ranggawarsita:

Triparaga

Ajaran R Ng. Ranggawarsita sesungguhnya merupakan kelanjutan dari ajaran leluhur Jawa atau Nuswantara. Hal ini dikatakannya sendiri dalam sebuah suluk:
Panemune pujangga Ranggawarsita, kang kawasitakake marang para siswa-siswane: Aja uwas sumelang ing ati. Ing wekasan sumangga, angon-angon ana ing karsa, katarima ana ing sarira. Sarehning aku mung sadarma ngimpun sakehing ilmu saka wewejanging guru sawiji-wiji, pangrasaning atiku wis ganep etunge, kuranga kaya ora akeh.

Artinya, pandangan sang pujangga Ranggawarsita, yang disampaikan kepada para siswanya: janganlah hati kalian was-was dan khawatir. Silahkan merenunginya, dibayangkan dalam karsa, diterimakan di dalam jiwa. Karena saya ini hanya menghimpun sebanyak-banyak ilmu dari wejangan guru demi guru. Sepanjang perasaan hati saya, semua telah saya genapkan, kalaulah masih kurang tak seberapa banyak. Demikian sang pujangga yang memandang dirinya dengan sangat bersahaja.

Dalam alam kesadaran Jawa, terutama yang diajarkan oleh Ranggawarsita, terdapat pengertian hubungan Allah-manusia. Model skematik relasi tersebut disebut triparaga. Yakni Baetul Makmur, Baetul Muharom, dan Baetul Mukodas. Dalam bahasa Jawa dipaparkan seperti di bawah ini. Pertama, wewejangan ingkang dhihin, dipunwastani: Baetul Makmur, inggih kayektening Pangeran, inggih punika pitedhahan tataning karaton, duk tinata wonten uteking manungsa. Sajatosipun inggih namung kangge pitedahan kayektening wujud satunggal-satunggal, anandhakaken kadadosan karsa, ingkang boten ewah gingsir ing kahananipun. Wejangan wau inggih anggelaraken bab sampurnaning manungsa, kang ugi sasadan pangandikanipun Pangeran dhateng Nabi Mohammad s.a.w. Makaten pangandikanipun: Sajatine ingsun anata palenggahan, dumunung ana ing enggon parameyaningsun, jumeneng ana sirahing menungsa. Kang ana sajroning sirah iku utek, kang gagandhengan ana ing antarane utek iku manik. Yaiku telenging netra, aran pramana. Sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, kang uga ingaran angen - angen. Sajroning napsu iku suksma, kang uga ingaran nyawa, roh utawa getih. Sajroning suksma iku rahsa, kang uga ingaran cipta. Sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran, nanging Ingsun sajatining urip kang anglimputi sagunging kahanan. 

Menggah dunungipun makaten:
1. Sirah, sajatining enggen parameyan.
2.Utek, kandanging cahya, pambukaning netya (praen).
3. Manik, sajatimng pramana, pambukaning paningal.
4. Budi, sajatining manah, pambukaning pamicara.
5. Napsu, sajatining angen-angen, pambukaning swara.
6. Suksma, sajatining nyawa, pambukaning swarga.
7. Rahsa, sajatining gesang, pambukaning pangraos.

Peperangan ing nginggil punika, sajatosipun boten sanes wiring pangawasa wau, inggih saking purbawisesaning Pangeran kita. 

Kedua, Wejangan ingkang kaping pindha, dipunwastani: K a n y a t a h a n I n g wahananing Pangeran, inggih punika ambuka panataning palenggahan, duk jumeneng women salebeting jantunging manungsa, punika sajatosipun inggih namung minangka pitedahan kayektening kahanan satunggal-satunggal, nandhakaken kadadosaning karsa ingkang langgeng boten mawi ewah gingsir saking kahanan jati. Makaten ugi ngemot cariyos bab kasampurnaning manungsa. Sasadan pangandikaning Pangeran dhateng Nabi Agung Mohammad s.a.w. Makaten firman utawi pangandikanipun: sajatine Ingsun anata palenggahan ana sajroning jantunging manungsa, iya iku enggon laranganingsun, jumeneng ana dhadhaning manungsa, kang ana sajroning dhadha iku ati, kang gagandhengan ana saantaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem, tegese angen-angen, sajroning jinem iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, sajatining urip kang anglimputi sagunging kahanan, menggah dunungipun makaten:

1. Dhadha, tegesipun griya kang ka’awisan.
2. Ati, tegesipun pancadriya, inggih napsu, wahyaning napas.
3. Jantung tegesipun osik gangsal, inggih birahi, wahyaning keteteg.
4. Budi tegesipun kawaspadan, inggih karsa, wahyaning pamicara.
5. Jinem tegesipun panggraita, inggih swara, wahyaning pamiarsa
6. Suksma tegesipun erah, inggih cipta, wahyaning pangganda.
7. Rahsa tegesipun urip, inggih kang kawasa, wahyaning pangraos.

Perangan ing nginggil punika, inggih sami kemawon maksudipun ka-liyan perangan ing wewejangan ingkang kaping sakawan.

Ketiga, wewejangan ingkang kaping tiga, dipunwastani: K a y e k t e n kahananing Pangeran, inggih punika pambuka tataning palenggahan duk tinata wonten kontholing (penis) manungsa, inggih saking karsaning Pangeran ingkang amesti, punika sajatosipun inggih amung minangka pitedahan kayektening kahanan satunggal-satunggal, nandhakaken kadadosaning karsa ingkang boten mawi ewah gingsir ing kahanan jati. Makaten ugi ngemot carios bab kasampurnahing manungsa ingkang ugi sasadan pangandikanipun Pangeran dhateng N. Mohammad s.a.w. Makaten firman utawi pangandikanipun: sajatine ingsun anata palenggahan ana sajroning kontholing manungsa, iku omah dununging pasucianingsun. Kang ana sajroning konthol iku pringsilan, kang anglimputi ana saantaraning pringsilan iku mani, sasarining mani iku madi, sasarining madi iku wadi. Sasarining wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahasa, sajronig rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, sajatining urip kang anglimputi sakliring tumitah, jumeneng dadi wiji kang piningit, tumurun mahanani sosotya kang dhingin kahanan kabeh. Maksih dumunung ana alaming wiji, laju amnggon ana ing alam pambabaring wiji, laju tumurun ana alaming suksma, yaiku getih, laju tumurun ana alam kang during kahana, yaiku alam kang ingaran upama, laju turun ing alam dunya, yaiku alaming manungsa urip, lan yaiku sajatining warnaningsun. Menggah dunungipun makaten:

1. Konthol, sinebut griya kang sinucekaken.
2. Pringsilan, nyataning birahi, bubuka sengseming manah.
3. Maui, nyataning hawa, bubuka sengseming pandulu.
4. Madi, nyataning karsa, bubuka sengseming pamireng.
5. Wadi, nyataning cipta, bubuka sengseming pocapan.
6. Manikem, nyataning pangraos, bubuka sengseming pangambu.
7. Rahsa, nyataning pangawasa, bubuka sengseming salulut.

Panggenahipun malih:
1. Mani, pejuh. Ingkang taksih kados toya, warninipun surat biru.
2. Madi, sarining mani, warninipun surat dhadhu.
3. Wadi, sarining madi, warninipun surat jene.
4. Manikem, sarining wadi, warninipun pethak mayu-iuaya kadi retna.
5. Wiji kang piningit, inggih punika rahsa sajati.
6. Sosotya ing dhihin, inggih manik embaning rahsa sajati, ing ngriku wontening papangkatan pambabaring wiji, dumunung pitung kahanan, inggih punika nalika kita taksih dumunung wonten guwagarbaning rena (biyung), inggih punika :
1. Duk kendel 1 wulan, kita dumunung wonten alaming wiji.
2. Duk kendel 2 wulan, kita dumunung wonten pasenedhaning wiji
3. Duk kendel 3 wulan, kita dumunung wonten pambabaring wiji.
4. Duk kendel 4 wulart, kita dumunung wonten alaming rah.
5. Duk kendel 5 wulan, kita dumunung wonten alaming. upama.
6. Duk kendel 6 wulan, kita dumunung wonten alaming badan.
7. Duk kendel 7, 8. 9, wulan, kita dumunung wonten alaming manungsa.

Ing ngriku kita tetep jumeneng kasampurnaning manungsa (insankamil). Sampun darbe pakerti kita badhe lahir saking guwa garbaning ibu, tumitah wonten ing donya.Dene wejangan punika tnanawi tumanduk dhateng tiyang estri, wenang kasantunan pamangsitipira makaten: ingsun anata palenggahan jumeneng ana bagane Siti Kawa, kang ana sajroning baga iku purana, kang ana antaraning purana iku reta, sajroning reta iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, Ian salajengipun kados wejangan rumraping priya kasebut ing nginggil.

Similaritas:

Agama=Budaya

Similaritas antara agama dan budaya terdapat dalam karya Sinuhun Pakoe Boewana Kaping X (1910) dengan irah-irahan atau judul Serat Rerepen. Serat ini bukan karya langsung dari R Ng. Ranggawarsita, ia muncul sekitar 30 tahun setelah wafatnya. Namun serat ini menjadi penting karena secara langsung menjelaskan similaritas yang dimaksud. 

Pangkur

(1)
Pamundhut hingsun mring sira
Santana lan kawula kabeh hiki
Hambak taler Jawa tuhu
Tan hala haprayuga
Gayuh suprih yem tentrem hayuning srawung29
Wajib netepana warah
Wuruking agama suci30
Nasehatku untuk kalian
Kerabat dan rakyat semuanya ini
Yang telah ditakdirkan menjadi orang Jawa (Nuswantara)
Tidak buruk, bahkan utama
Mencitakan terwujudnya ketentraman kehidupan sesama
Wajib menetapi ajaran
Petunjuk agama suci

(2)
Narendra miwah pujangga
Wali lan pandhita jatine kaki
Karsaning Kang Maha Agung
Gunggunging Islam-Jawa
Marmane langgengna tunggal loro hiku
Ja-hana hingkang tinggal Jawa
Lan ja-hana hadoh agami
Para raja dan para pujangga
sesungguhnya para wali dan ulama anakku
Atas Kehendak Yang Maha Agung
Agunglah Islam-Jawa
Karena itu lestarikanlah dwitunggal itu
Jangan sampai ada yang semata Jawa
Dan jangan sampai ada yang menjauhi agama

(3)
Tinulis sajroning Qur’an
Hantepana dadya laku ban hari
Miwah wanguning Kadhatun
Tindakna klawan takwa
Wit kang mangkana sira jeneng geguru
Ratu habudaya Jawa
Wali panuntun agami
Yang telah tertulis dalam Al Qur’an
Mantapkanlah menjadi perilaku sehari-hari
Demi indahnya sebuah pemerintahan
Jalankanlah dengan takwa
Karenanya hendaklah engkau berguru
Para raja yang berbudaya Jawa
Juga adalah para wali penuntun agama. 

Nuwun.



Daftar Pustaka

1. Abdullah Ciptoprawiro, dr., Filsafat Jawa, Balai Pustaka, 1992.
2. Agus Haryo Sudarmojo, Kepahlawanan dan Inspirasi Pangeran Sambernyowo, Kompas, Jakarta, 2011.
3. Andjar-Any, Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon, Aneka Ilmu Semarang, tt.
4. Dirdjosiswojo, Kawi-Djinarwa I-II, PT Pertjetakan RI, 1957.
5. Herman Sinung Janutama, Ki, Pisowanan Alit-1, Nuswantara Negeri Keramat, Lkis, Yog­yakarta, 2012.
6. KRT Tjakraningrat, Kitab Primbon Atassadhur Adammakna, CV Buana Raya, Yogyakarta.
7. Mandoyokusumo, KRT., Serat Radjaputra, Museum Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
8. Pranoedjoe Poespaningrat, Kisah Para Leluhur dan Yang Diluhurkan dari Mataram Kuno sampai Mataram Baru, PT. BPKR, 2008.
9. R. Tanaya, Baboning Primbon, Surakarta, tt.
10. Wamugi, Drs., Sunan Kalijaga, Fortuna, Pekalongan, 2005.
11. Werdoyo, TS., Tan Jin Sing, dari Kapiten China sampai Bupati Yogyakarta, Grafiti Pers, Jakarta, 1990.


------------------------------------


Tentang Penulis

Ki Herman Sinung Janutama (45), adalah pekerja budaya dan pemerhati persoalan Filsafat. Reader pada waosan kitab Primbon Betaljemur Adammakna di gelaran Indonesia Buku, Ngayogyakarta. Pembantu panitia penyelenggara Pagelaran Wayang Kulit di Sasana Hinggil Dwi Abad ”Pepadang”, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat 2012. Koordinator diskusi bulanan ”Pepadang” Pra-pagelaran Wayang Kulit di Sasana Hinggil Dwi Abad, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat 2012.

Pernah sekolah di FMIPA, Jurusan Fisika Teori, Universitas Gadjah Mada, serta Fakultas Akidah-Filsafat UIN Suka Yogyakarta. Akrab dengan budaya Jawa sejak bersekolah di SDN (Jawa) Endrakila, Madiun. Dan juga sejak bersekolah di SMPN 1 Yogyakarta, dan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.
Pekerjaan paling berkesan adalah sebagai Pedagang Asongan di Pasar Demangan, Pasar Beringharjo, dan Pasar Kolombo Yogyakarta. Juga sebagai Pembantu Penjual Rujak Es Krim di perempatan Pandeyan, Umbulharjo. Pernah menjadi CEO pada PT Scripta Perennia, Jakarta. Semua itu dijalani penulis sebagai laku ngudi kawruh sangkan paran.

Buku yang telah ditulis antara lain: Mencari Tuhan dalam Fisika Eisntein, 2007 (karya terjemahan), Pisowanan Alit (2009), dan Kesultanan Majapahit (2010). Ada juga buku-buku indie seperti Dikiran Pujabekten 1, Dikiran Pujabekten 2, Premis-premis Pembacaan Khasanah Kebudayaan Jawa dan Nuswantara, Ecce Dialecticus - Dialectico In Traditio Demonstrata, Pierre Bourdieu - In Mea Demonstrata, Meditasi atas Modernitas. 

[Ngayogyakarta Hadiningrat, Selasa Pon, 13 Ruwah 1945 Jawa, 3 Juli 2012]


______________________________________________________________
Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 Indonesia
t: +62 21 7891202 f:+62 21 7818849 www.salihara.org

Definisi dan Sejarah Psikologi (1)

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.

Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: “ψυχή” (Psychē yang berarti jiwa) dan “-λογία” (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.

Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Defenisi ini membuat psikologi bergeser dari yang mempelajari jiwa ke penelitian tingkah laku. Ini dapat dilihat dari sejarah psikologi dari awal (dari masa Yunani) sampai masa sekarang.

Definisi psikologi selalu tergeser, sehingga mempengaruhi metodologi perkembangannya disetiap waktu dan tempat. Bahkan perbedaan ini yang memunculkan aliran psikologi yang beragam. Perkembangan psikologi terakhir yang kontemporer dengan pendekaatan Indegeneous (kearifan local) maupun studi lintas budaya (Cros Cultur Psychology) ataupun karakteristik individual (Positive Psychology).

Defenisi Menurut Beberapa Tokoh:
1. Wilhelm Wundt: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari kesaradan Manusia
2. Woodworth dan Marquis: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, yang terlihat maupun yang tidak telihat meliputi aktivitas fisik, emosional, dan berpikir.
3. Fieldman: Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental.
4. Clifford T. Morgan: Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang memeplajari perilaku manusia dan hewan.
5. Gardner Murpgy: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
6. Kamus Psikologi (Chaplin): Psychology as a science (psikologi sebagai suatu ilmu pengetahuan) adalah ilmu mengenai tingkah laku manusia dan binatang; studi mengenai organisme dalam segala variasi dan kompleksitasnya, untuk bereaksi terhadap perubahan yang terus menerus dan aliran dari kejadian-kejadian fisik/ragawi dan peristiwa-peristiwa sosial yang menyusun lingkungannya.

Sejarah Psikologi

Dilihat dari sejarah, psikologi sudah berkembang sejak berabad-abad yang lalu bahkan sebelum masehi (Zaman Yunani) sampai sekarang. Ini dilihat dari sejarah bahwa psikologi yang dimaksud adalah pembahasan tentang jiwa manusia. Bahkan di dalam kitab setiap agama kita akan mendapati istilah psikologi (jiwa). Sehingga sejarah psikologi bisa dilihat dari sudut ini pula. Tetapi sekarang, kita akan membahas sejarah psikologi dengan membahas pembabakan sejarahnya sesuai dengan perkembangan ilmu zaman itu. Sebagai catatan bahwa ilmu psikologi modern tidak bias dipisahkan dengan sejarahnya di Filsafat. Sebagian ahli berpendapat bahwa psikologi berkembang dari ilmu filsafat yang memisahkan diri sebagai ilmu mandiri.

A. Masa Yunani

Pendekatan dan orientasi filsafat masa Yunani yang terarah pada eksplorasi alam, empirical observations, ditandai dengan kemajuan di bidang astronomi dan matematika, meletakkan dasar ciri natural science pada psikologi, yaitu objective, experimentation and observation, the real activity of living organism. Pertanyaan utama yang selalu berulang:
Why do we behave as we do?
Why are we able to generate reasonable explanation of some actions but not of others?
Why do we have moods?
Why do we seem to know what we know?
Efforts to find ‘the cause’.
Comte: causal explanation adalah indikator untuk perkembangan tahap intelektual bagi peradaban manusia.

Masa Pra Yunani Kuno : tahap intelektual masih primitive, yaitu theological/animism : atribusi ‘the cause’ pada dewa-dewa atau spiritual power. Contoh : Mesir
Manusia adalah pihak yang lemah. Perilaku ditentukan oleh kekuatan para spirit, maka tugas utama manusia adalah menjaga hubungan baik dengan mereka dengan cara menjunjung tinggi otoritas para spirit.

Sejak zaman filsuf-filsuf besar seperti Socrates (469-399 SM) telah berkembang filsafat mental yang membahas secara jelas persoalan “jiwaraga”.
Kejayaan masa Yunani ditandai oleh pemikiran dari tiga filsuf besar: Socrates, Plato, Aristoteles; walau masih dipengaruhi pemikiran-pemikiran masa sebelumnya (masa Yunani Kuno)

B. Masa Abad Pertengahan

Masa abad pertengahan yang dimaksud adalah menurut pembabakan di bawah ini:

a. Akhir Hellenistic
Pendekatan natural science dari Aristoteles disebarkan oleh muridnya, Alexander the Great melalui ekspansi militer sampai ke daerah Timur. Bersamaan dengan itu mulai juga masuk pandangan belahan dunia Timur ke Barat, terutama Persia, India, dan Mesir. Dengan runtuhnya kekuasaan Alexander the Great, pengaruh timur ini semakin kuat, ditandai dengan menguatnya pandangan spiritualitas menggantikan naturalisme.

b. Masa Romawi
Konteks sosial :
•    Pemerintahan kekaisaran romawi yang mendunia dengan tertib administrasi kependudukan yang kuat serta jaminan akan ketentraman sosial.
•    Pemikiran tentang manusia dan alam menjadi lebih pragmatis, spesifik dan spesialis. Bangsa Romawi lebih tertarik pada ilmu pengetahuan yang teknikal dan aplikatif, seluruhnya diarahkan untuk memperkuat dominasi kekaisaran Romawi.
•    Ide-ide dan pemikiran tentang manusia berkembang subur, bahkan juga ide-ide ketuhanan
Pengaruh bagi perkembangan pemikiran tentang manusia:
•    Filsafat yang berkembang memiliki konteks yang lebih terbatas dan spesifik, serta tampak dalam bentuk yang nyata, misalnya ritual religi masyarakat Romawi.
•    Fokus yang dibicarakan :
a) dikotomi aktif-pasif, apakah jiwa (yang menggambarkan manusia) adalah unsur yang aktif dan mandiri terhadap lingkungan ataukah unsur yang pasif dan hanya bisa memberi reaksi.
b) dikotomi passion – reason
c) manusia dipandang sebagai makhluk yang kehidupannya didorong oleh usaha untuk mencari cara ‘menguasai’ keinginan fisik melalui penolakan dunia materiil dan mencari kebenaran dalam alam dan Tuhan (Neoplatonism)
•    Pengaruh pada pemikiran tentang. nilai moral.
•    Pemikiran pada masa Romawi memberi jalan bagi berkembangnya kekristenan.
c. Pengaruh Kristen
Konteks sosial :
•    masa penyebaran agama Kristen dengan tokoh Yesus sebagai perwujudan “manusia sempurna” beserta perilakunya yang harus jadi teladan.
•    paham Tritunggal yang mengandaikan x=3x
•    gereja dan para ulamanya berperan penting dalam masyarakat
•    peran gereja menjadi dominan dalam perkembangan intelektualitas di masyarakat, banyak cendekiawan berlatar belakang ulama.
•    secara gradual, gereja menjadi penentu nilai di masyarakat dan berhak melakukan sensor atas tulisan atau ide yang muncul. Gereja juga adalah penyelenggara pendidikan moral. Peran gereja dirasakan kurang memuaskan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, maka muncul universitas-universitas di Eropa yang menawarkan kebebasan berpikir secara lebih luas. Terjadi pertentangan antara gereja dan masyarakat.
Pengaruh pada pandangan mengenai manusia :
•    Manusia bukan hanya physical being, tetapi juga spiritual entity. Aspek spiritual tidak diatur oleh hukum alam. Jiwa manusia (soul) ada pada dunia yang tidak nyata (intangible), tidak dapat dibuktikan dengan mata, dan eksistensinya hanya dapat dibuktikan lewat percaya (iman).
•    Menempatkan ide Plato dalam konteks kekristenan
•    Usaha untuk menjelaskan hubungan antara body and soul sebagai suatu dualisme, bukan sst yang harus dipertentangkan, body dan soul masing-masing memiliki fungsi tersendiri.
Beberapa Tokoh abad Ini:

1) St. Agustinus
· Filsuf pertama pada masa Kekristenan.
· Tuhan adalah kebenaran yang menciptakan manusia, bumi dan surga. Jiwa manusia adalah image dari Tuhan.
· Pentingnya eksplorasi spiritualitas sebagai usaha manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Faktor materiil tidak penting, rationalitas juga tidak terlalu dapat dipercaya. Maka pandangannya betul-betul merupakan kebalikan dari pandangan natural science yang empiris dan objektif. Hanya melalui transendensi manusia dapat sedekat mungkin dengan Tuhan dan berarti juga sedekat mungkin dengan kebenaran.
· Sumbangan bagi psikologi : metode introspective. Teknik utama manusia untuk melakukan transendensi.
Dalam psikologi modern teknik ini digunakan oleh beberapa aliran besar seperti strukturalisme (teknik utama untuk menggali jiwa manusia), gestalt, dan psikoanalisa.

2) Thomas Aquinas
· Mentransformasikan pandangan Aristoteles ke dalam konsep-konsep kekristenan. Apa yang dikenal sebagai reason oleh Aristoteles diterjemahkan sebagai soul oleh Aquinas. Maka soul adalah sesuatu yang vital bagi manusia, tujuan utamanya adalah memahami dunia, hal yang tidak dapat dilakukan oleh fisik manusia semata.
· Namun demikian, banyak act dari soul yang membutuhkan tubuh fisik manusia sebagai kekuatan yang dapat mewujudkannya.
· Sumbangan bagi science/psikologi modern :
ü Pengubahan mutlak dari Aristoteles’ natural science
ü Pengembangan dualisme
Sepanjang masa ini, perdebatan mengenai manusia bergeser dari topik kehidupan yang luas, hubungan antara manusia dengan lingkungannya /alam, ke arah pemahaman tentang kehidupan secara lebih spesifik, yaitu hubungan antara aspek-aspek di dalam diri manusia itu sendiri. Menunjukkan semakin mendalamnya perhatian dan concern awal mengenai manusia itu sendiri. Meskipun demikian, pengaruh kuat gereja menyebabkan pemikiran tentang manusia tidak bebas, dan otoritas ketuhanan tetap dijunjung sebagai otoritas tertinggi

C. Masa Renaissans

Konteks sosial dan intelektual
Masa ini merupakan merupakan reaksi terhadap masa sebelumnya, dimana pengetahuan bersifat doktrinal di bawah pengaruh gereja dan lebih didasarkan pada iman. Reaksi ini sedemikian kuat sehingga dapat dikatakan peran nalar menggantikan peran iman, ilmu pengetahuan menggantikan tempat agama dan iman di masyarakat. Semangat pencerahan semakin tampak nyata dalam perkembangan science dan filsafat melalui menguatnya peran nalar (reason) dalam segala bidang, dikenal sebagai the age of reason. Akal budi manusia dinilai sangat tinggi dan digunakan untuk membentuk pengetahuan.
Masa Rennaissance ditandai dengan bergesernya fokus pemahaman dari God-centeredness menjadi human-centerednes, dikenal dengan istilah sekularisasi atau humanity. Tulisan-tulisan filsuf terkenal seperti Plato, Aristoteles dan lain-lain dikaji untuk melihat bagaimana pola pikir penulisnya dan konteks histories waktu tulisan itu dibuat. Maka yang dicari adalah human truth dan bukan God truth. Kesimpulan akhirnya adalah penerimaan bahwa kebenaran memiliki lebih dari satu perspektif.

D. Masa Pasca Renaisans dan Revolusi Ilmiah

Konteks sosial dan intelektual

Ada beberapa pandangan penting tentang manusia pada masa ini:
Pola pikir yang lebih mekanistik dalam memandang alam dan manusia. Itu berarti alam memiliki sistem, dapat diramalkan, dan tidak tunduk pada hukum-hukum spritual belaka. Manusia juga memiliki reason, kemampuan untuk berpikir logis dan dengan demikian tidak tunduk total kepada hukum spiritual dan kesetiaan semata.

Penganjur :
•    Teori Newton tentang gravitasi
•    Heliosentris Copernicus (bertentangan dg Galileo)
•    Mind-body solution dari Descartes

Nature philosophy : alam diatur menurut hukum yang pasti, empirik dan dapat dibuktikan lewat eksperimen. Memahami alam harus diikuti sikap mental pengujian fakta obyektif dan eksperimental.
Implikasinya adalah munculnya diskusi tentang. ‘knowledge’ yang menyebabkan perkembangan ilmu dan metode ilmiah yang maju dengan pesat. Penekanan pada fakta-fakta yang nyata daripada pemikiran yang abstrak. Ilmu-ilmu eksakta yang menggunakan pendekatan empiri menjadi semakin dominan, sesuatu yang sampai sekarang juga masih dapat dirasakan pengaruhnya. Pada masa ini ilmu fisikalah yang dikenal sebagai ‘the queen of science’, dengan munculnya fisikawan besar seperti Newton.
Rene Descartes (1596-1650) mengemukakan bahwa manusia memiliki dimensi jiwa dan raga yang tidak dapat dipisahkan.

Ada 3 aliran yang berkembang (Dibawah Pengaruh Faal):

1. Fisiologis:

Kemajuan-kemajuan di bidang fisiologis, meliputi riset-riset di bidang aktivitas syaraf , sensasi, dan otak yang memberi dasar empiris bagi fungsi-fungsi yang sebelumnya dianggap fungsi dari soul (jiwa), yang juga sebelumnya dianggap sangat abstrak.

Tokoh-tokoh penting :
a) Charles Bell-Francoise Magendie : fakta bahwa syaraf sensoris dan motorik beroperasi secara terpisah dan searah. Mengikis anggapan bahwa syaraf manusia mencover keduanya, mengkomunikasikan informasi motorik kepada urat syaraf melalui ‘getaran’ yang diperoleh dari informasi sensoris.
b) Johannes Mueller : lebih menekankan pada proses transmisi syaraf. Doctrine of Specific Nerve Energies : transmisi syaraf adalah proses yang menjembatani antara sensed object dengan mind. Maka awareness manusia, bukan semata-mata disebabkan oleh objek tertentu, juga bukan karena jiwa, tapi diperantarai oleh proses transmisi syaraf. Pandangan ini melengkapi penjelasan ttg peran mind dan consciousness (cogito ergo sum) dan menjadi dasar bagi penelitian mengenai lokasi spesifik dari fungsi tertentu di otak.
c) Marshall Hall : refleks dikomandoi oleh syaraf tulang belakang (spinal cord) dan bukan syaraf batang otak. Mendiferensiasikan gerakan tubuh ke dalam 4 kelompok : voluntary movement, respiratory movement, involuntary movement, dan refleks. Pandangannya ini memicu diskusi mengenai kesadaran yang sangat relevan bagi perkembangan psikologi.
d) Paul Broca (1824 – 1880), menemukan pusat Broca yang mengendalikan aktivitas bicara. Ia merupakan tokoh penting dalam studi fisiologis otak. Studi ini berkembang dari phrenology (Gall & Spurzheim), satu-satunya pendekatan yang waktu itu berfokus pada otak . Fokus utama dari eksplorasi fisiologis otak adalah untuk menemukan lokasi fisiologis dari bagian-bagian mental, bagian tertentu dari otak yang merupakan central dari aktivitas mental manusia.
e) Pierre Flourens (1794-1867), mencoba pendekatan dengan bukti non-pathological (melengkapi Broca), menemukan pusat-pusat penting dari otak yaitu :
o Cerebral hemisphere : willing, judging, memory, seeing, and hearing
o Cerebellum : motor coordination
o Medulla oblongata: mediation of sensory and motor function
o Corpora quadrigemina : vision
o Spinal cord : conduction
o Nerves : excitation
f) Para ahli yang bersibuk diri dengan studi fisiologis dari sensasi, berusaha menguraikan anatomi dari reseptor indrawi dan menganalisis pengalaman psikologis yang dihasilkan berdasarkan proses fisiologisnya. Tokoh : Thomas Young (1773-1829) : trichromatic theory, Jan Purkinje (1787-1869) : hubungan sistematis antara struktur mata dan syaraf ke otak untuk menjelaskan perceptual error.

2. Psikofisiologis

Psychophysics, adalah bagian dari disiplin ilmu fisiologi yang memfokuskan pada subjective experience dalam mempelajari hubungan antara stimulus fisik dan sensasinya. Sensasi yang dirasakan oleh pancaindera manusia dipandang sebagai refleksi hubungan soul-body dan tidak semata-mata dijelaskan dari sudut anatomi atau fisik saja. Psychophysics merupakan tahap transisi yang krusial antara bidang fisiologis dengan awal pemunculan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu. Oleh karena itu para tokoh psychophysics dapat dianggap sebagai tokoh pendiri psikologi.

Tokoh-tokoh penting :
a) Gustav Theodor Fechner : hubungan antara sensasi dan persepsi, menganggap psikofisik sebagai sebuah ilmu eksak untuk menjelaskan hubungan antara body and mind. Ia tidak setuju dengan materialism, yaitu bahwa mind harus selalu diwujudkan dalam bentuk nyata baru bisa diteliti, sebaliknya ia berpegang pada tradisi pemikiran Jerman dimana mind diangagp sebagai sesuatu yang aktif dan memiliki struktur secara mandiri. Ia mengajukan ilmu empiris tentang mind dimana meningkatnya bodily and sensory stimulations dianggap sebagai indicator atau measurement untuk intensitas pengalaman mental.
Konsep utama : ambang atau threshold. (absolute threshold, just noticeable threshold).
b) Hermann von Helmholtz (1821-1894)Seorang pelopor psikologi eksperimen, banyak menggunakan waktu reaksi dalam penelitiannya, merupakan sesuatu yang masih banyak digunakan dalam psi eksperimen sampai sekarang.
Konsepnya : unconscious inference : penyimpulan hasil persepsi manusia diperoleh berdasarkan proses yang berulang sehingga akhirnya menjadi sesuatu yang tidak disadari ,‘irresisitible’, sekali terbentuk sulit secara sadar untuk dimodifikasi, dan digeneralisasi kepada stimulus yang mirip di lingkungan. Konsep penting lain : unbewusster schluss
Para tokoh psychophysics menunjukkan area studi yang tidak dengan mudah diakomodasi dalam ilmu fisika, fisiologis, atau filosofi. Area studi inilah yang berkembang menjadi obyek studi psikologi.

3. Evolusi

Evolusi, yang dikemukakan oleh Charles Darwin (1809-1882) merupakan titik penting dalam pemikiran mengenai manusia karena mengajukan ide bahwa keberadaan manusia merupakan bagian dari proses adaptasi makhluk hidup dengan alam, manusia bukan secara spesial diciptakan dan dengan demikian perbedaannya dengan makhluk lain hanya bersifat gradual, bukan kualitas. Pandangan ini penting dan relevan sekali bagi perkembangan psikologi, terutama memberikan ide mengenai individual difference, perbedaan antar individu juga sifatnya hanya gradual, bukan kualitas.

Tokoh penting :
Francis Galton (1822 – 1911) : dikenal sebagai bapak psikologi eksperimental Inggris. Menampilkan aspek praktikal dan kegunaan dari teori evolusi Darwin, mentransfer teori Darwin dari konteks biologis ke dalam konteks perbaikan dalam masyarakat.
Perkembangan dalam dunia psikiatri
Sumbangan dari dunia psikiatri terutama pada eksplorasi gejala-gejala patologis kejiwaan dan pengayaan dalam bidang metodologi. Bidang ini terutama terkait dengan psikologi klinis.
Tokoh :
1) Kraepelin : penggolongan psikosis, determinan fisiologis dari kelainan jiwa, penyusunan tes psikologis untuk penderita kelainan jiwa.
2) Kretschmer: hubungan bentuk tubuh dan kelainan kejiwaan, dan tipologi bawaan

E. Psikologi sebagai ilmu yang mandiri (Akhir Abad Ke-19)

Konteks sosial dan intelektual
· Pada akhir abad 19, dengan perkembangan natural science dan metode ilmiah secara mapan sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, konteks intelektual Eropa sudah ‘siap’ untuk menerima psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri dan formal.
· Tanah kelahiran psikologi adalah Jerman. Oleh karenanya munculnya psikologi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial Jerman dan orientasi intelektual Wilhelm Wundt, orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu.

1. Konteks sosial Jerman
•    Konteks ilmiah Jerman pada abad 19 ditandai dengan mulai berdirinya institusi universitas dengan misinya untuk membentuk manusia berkualitas (berbudaya dan memiliki integritas) dan penyedia tenaga kerja yang professional.
•    Ilmu psikologi didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang menyumbang pada pembentukan Bildungsburger, culturally educated citizens. Maka psikologi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai kualitas manusia ideal Jerman. Sebagai sebuah ilmu yang hubungannya paling dekat dan paling langsung dengan manusia, psikologi berada di antara dua kepentingan : hubungannya dengan ilmu-ilmu yang kongkrit dan aplikatif dan hubungannya dengan ilmu-ilmu kemanusiaan seperti filasafat, teologi.
•    Wundt sendiri menganggap psikologi sebagai bagian dari filsafat. Namun dengan berkembangnya karir pribadinya, ia mulai menentukan batas-batas yang dapat dilakukan psi. sebagai sebuah ilmu alam, khususnya psikologi eksperimen. Dasar berpikir Wundt tentang psikologi menunjukkan bagaimana posisi psikologi dalam dua kepentingan itu sendiri. Baginya kesadaran manusia (consciousness) terdiri dari elemen-elemen. Namun elemen ini tergabung dalam kesatuan yang lebih besar melalui human will.

2. Riwayat dan pemikiran Wundt.
Wilhelm Wundt (1832-1920) dilahirkan di Neckarau, Baden, Jerman, dari keluarga intelektual. Ia menamatkan studi kesarjanaannya dan memperoleh gelar doktor di bidang kedokteran dan tertarik pada riset-riset fisiologis. Ia melakukan penelitian di bidang psikofisik bersama-sama dengan Johannes Mueller an Hermann von Helmholtz. Karya utamanya pada masa-masa ini adalah Grundzuege der Physiologischen Psychologie (Principles of physiological psychology) pada tahun 1873-1874.
Wundt memperoleh posisi sebagai professor dan mengajar di Universitas Leipzig dimana ia mendirikan Psychological Institute. Laboratorium psikologi didirikan pada tahun 1879, menandai berdirinya psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu ilmiah. Di awal berdirinya laboratorium ini, Wundt membiayainya dari kantongnya sendiri sebagai sebuah usaha privat. Setelah tahun 1885, lab ini baru diakui oleh universitas dan secara resmi didanai oleh universitas. Laboratorium ini berkembang dengan pesat sebelum akhirnya gedungnya hancur dalam PD2.

Selama di Leipzing, Wundt adalah seorang pengajar yang sangat produktif, membimbing 200 mahasiswa disertasi, mengajar lebih dari 24.000 mahasisiwa, serta menulis secara teratur.Pada tahun 1900 ia memulai karya besarnya, Voelkerpsychologie, yang baru diakhirinya pada tahun 1920, tahun dimana ia wafat. Karya ini berisi pemikirannya tentang sisi lain dari psikologi, yaitu mempelajari individu dalam society, tidak hanya inidvidu dalam laboratorium. Karya ini dapat dikatakan sebagai jejak pertama Psikologi Sosial.

Pemikiran Wundt terbagi atas beberapa point penting:
•    Adanya ‘an alliance between two science’, yaitu fisiologi dan psikologi. Fisiologi adalah ilmu yang menginformasikan fenomena kehidupan sebagaimana yang kita persepsikan melalui penginderaan eksternal sedangkan psikologi adlaah yang memungkinkan manusia melihat ke dalam dirinya dari sisi internal dirinya sendiri. Terkait dengan ikatan kedua cabang ilmu ini, ada beberapa pemikiran penting:
ü Secara metodologi aliansi ini berarti apparatus dan teknik pengukuran yang ada di bidang fisiologi diaplikasikan kepada bidang psikologis, misalnya dengan waktu reaksi. Berdasarkan hal inilah, Wundt menamakan cabang ilmu baru yang ditemukannya ini sebagai psikologi eksperimental. Bagi Wundt metode eksperimen lebih ‘layak’ digunakan untk eksplorasi mind daripada yang biasa digunakan, yaitu ‘introspection’. Sebenarnya secara tradisional, Wundt bergantung pada observasi introspektiv dari alam sekitar dan dunia, dimana dipisahkan antara usaha untuk mengidentifikasi elemen-elemn mental dan mengidentifikasi proses mental yang mengintegrasikan elemen-elemen tersebut ke dalam pengalaman atau obyek yang koheren.

ü Dengan aliansi ini psikologi menjadi lebih terbantu untuk menghadapi tantangan dunia natural science. Ilmu psikologi yang secara tradisional mempelajari soul (jiwa), kini mendapat justifikasinya selama elemen soul tsb di jabarkan ke dalam elemen fisiologis terkecil, misalnya susunan system syaraf. Maka dimungkinkan juga terjadinya reduksionism operasi mental ke dalam operasi neurologis.
ü Melalui aliansi dengan ilmu yang lebih mapan kedudukannya seperti ilmu fisiologis, psikologi lebih mudah diterima dalam khasanah ilmu pengetahuan sebagai sebuah ilmu yang mandiri
•    Pandangan tentang psikologi sebagai ilmu dan metodenya.
•    Pemahaman Wundt tentang psikologi relatif konstan, yaitu “..as the study of the mind and the search for the laws that govern it..” (Leahey, 2000 : 253). Namun demikian, pandangannya mengenai metode paling tepat untuk menggali mind dan ruang lingkup mind itu sendiri berubah sejalan dengan perkembangan kematangan intelektualitasnya.

Pada awalnya, Wundt menggolongkan bahwa mind mencakup proses-proses ketidaksadaran / unconciousness (sebagai karakteristik dari soul). Metode eksperimen adalah jalan untuk membawa penelitian tentang mind dari level kesadaran (consciousness) kepada proses-proses yang tidak sadar. Dengan kata lain, metode eksperimen adalah cara untuk membawa mind ke dalam batas-batas ruang lingkup natural science yang obyektif dan empiris.Dalam perkembangannya, Wundt mengakui bahwa metode eksperimental dalam psikologi fisiologi sangat kuat untuk menggali elemen-elemen soul yang mendasar (misalnya persepsi, emosi, dll). Namun di atas fenomena-fenomena mendasar ini masih ada proses-proses mental yang lebih tinggi (higher mental process) yang mengintegrasikan fenomena dasar tsb. Higher mental process ini muncul dalam bentuk kreativitas mental dan menjadi kekuatan sebuah peradaban dan bersifat abadi, yaitu : bahasa, mitos, custom, budaya. Pada tahap ini Wundt membatasi fungsi soul hanya pada tahap kesadaran. Proses-proses ketidaksadaran tidak lagi menjadi fokus dari ‘study of the mind’.

Research Method for Psychology, adalah fokus pemikiran Wundt selanjutnya. Idenya tentang metode juga berkembang sejalan dengan kematangan proses intelektualnya.
Metode yang pertama kali dianjurkan Wundt sebagai strategi ilmiah untuk eksplorasi psikologis adalah eksperimental self-observation/introspection, pengembangan dari metode perenungan (armchair subjective introspection) yang sering dipakai dalam filsafat. Metode ini dilakukan oleh Wundt dg cara sangat terkontrol sehinga dapat direplikasi. Metode ini dilakukan di bawah pengawasan ketat dari seorang eksperimenter yang terlatih. Subyek dimasukkan ke dalam situasi lab yang terkontrol dan diminta melaporkan secara sistematis pengalaman yang dihasilkan dari situasi tersebut. Eksperimenter mencatat hasil ini secara mendetil.

Metode eksperimental introspection di atas sangat diutamakan oleh Wundt dalam penelitian-penelitiannya pada masa ia memahami mind sbagai studi yang mencakup unconsciousness. Metode ini dianggap lebih unggul daripada introspeksi yang tradisional (armchair introspection) karena lebih mampu menjangkau tahap unconsciousness daripada yang terakhir.Selain eksperimental introspection, Wundt menemukan metode lain, yaitu comparative-psychological dan historical-psychological. Metode eksperimental introspection hanya bermanfaat pada subyek dewasa yang normal. Untuk anak-anak, binatang, dan individu dengan gangguan kejiwaaan dilakukan comparative-psychological guna melihat perbedaan mental mereka. Sedangkan historical-psychological adalah metode untuk melihat perbedaan mental individu dari ras dan kebangsaan yang berbeda. Sebagai seorang yang dipengaruhi pemikiran Darwin, Wundt percaya bahwa perkembangan psikologis individu dapat dipelajari dengan cara melihat sejarah perkembangan manusia itu sendiri. Pada saat pandangan Wundt tentang mind terfokus pada level kesadaran, metode introspection mulai dibatasi penggunaannya, dan Wundt beralih pada metode eksperimen laboratorium modern, dimana yang dipentingkan adalah kemungkinan duplikasi yang eksak.

Fokus studi Wundt dapat dilihat melalui dua karya besarnya, Principles of Physiological Psychology dan Voelkerpsychologie.

Principles of Physiological Psychology, dalam karyanya ini Wundt memfokuskan pada hasil-hasil eksperimennya tentang ingatan, emosi, dan abnormalitas kesadaran.
Hasil eksperimen tentang ingatan akan simple ideas menghasilkan jumlah ide sederhana yang dapat disimpan dalam ingatan manusia (mind), fakta bahwa ide yang bermakna akan lebih diingat daripada yang muncul secara random, serta karakteristik dari kesadaran manusia yang bersifat selektif. Konsep penting yang muncul adalah apperception, suatu bentuk operasi mental yang mensintesakan elemen mental menjadi satu kesatuan utuh, juga berpengaruh dalam proses mental tinggi seperti analisis dan judgement. Studi Wundt tentang emosi dan feelings menghasilkan pembagian kutub-kutub emosi ke dalam tiga dimensi :
Pleasant vs unpleasant
High vs low arousal
Concentrated vs relaxed attention

Teori ini dikenal sebagai the three dimensional theory namun bersifat kontroversial.Ide tentang abnormalitas kesadaran dari Wundt dibangun melalui diskusi-disksui dengan para psikiater terkenal masa itu, Kretschmer dan Kraepelin. Ide Wundt tentang schizoprenic adalah hilangnya kontrol appersepsi dan kontrol dalam proses atensi. Akibatnya proses berpikir hanya bersifat rangkaian asosiasi ide yang tidak terkontrol.

Voelkerpsychologie, adalah karyanya yang berfokus pada metode historical psychological. Mind individu adalah hasil dari sebuah perkembangan species yang panjang. Maka usaha untuk memahami perkembangan mind harus dilakukan dengan cara menjajagi perkembangan sejarah peradaban manusia. Sejarah adalah cara untuk sampai pada psikologi manusia secara intuitif.
Dalam eksplorasi sejarah perkembangan ini, Wundt sampai pada kajian yang detil dan sistematis tentang perkembangan bahasa manusia. Hasil kajian ini dianggap sebagai prestasi besar dalam dunia psikologi dan meletakkan dasar bagi bidang psikolinguistik. Wundt memandang bahasa dalam dua seginya, dari aspek linguistik dan aspek kognitif. Bahasa menggambarkan bagaiamana proses kognitif berjalan dan menggambarkan juga tingkat abstraksi individu.

Jasa utama Wundt dalam bidang psikologi adalah usahanya untuk memperjuangkan diterimanya psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri. Ide-ide Wundt sendiri tidak bertahan lama dan bahkan murid-muridnya tidak banyak mempopulerkan pemikirannya. Dalam konteks perkembangan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu,Wundt lebih tepat dianggap sebagai seorang figur transisi yang menjembatani aspek filosofis dari psikologi di masa lalu dengan ciri terapan dan natural science dari psikologi di masa depan. Para murid Wundt juga lebih tertarik untuk mengembangkan psikologi ke dua arah tsb : natural science dan applied science.

3. Strukturalisme: E.B. Titchener

E.B. Titchener adalah salah satu murid Wundt yang dianggap paling mendukung pandangan Wundt, meskipun sebenarnya banyak pandangan Wundt yang ditentangnya, dan akhirnya dia mengembangkan alirannya sendiri, structural psychology.

Titchener berkebangsaan Inggris. Ia belajar di Oxford dalam bidang filsafat sebelumnya beralih ke fisiologi. Berdasarkan pengalamannya menterjemahkan buku Wundt ke dalam bahasa Inggris, Titchener tertarik pada ajaran Wundt dan pindah ke Leipzig untuk menjadi murid Wundt. Setelah menempuh pendidikan di bawah Wundt dan sempat mengajar sebentar di Inggris, Wundt pindah ke Amerika, mengajar di Cornell University hingga akhir hayatnya di tahun 1927. Selama masa tinggalnya di Amerika ini structural psychology yang dijalaninya menemukan tantangan pada aliran Psikologi lainnya yang khas Amerika, seperti fungsionalisme dan behaviorisme. Namun Titchener tidak terpengaruh kepada dua aliran besar tsb dan tetap berpegang pada strukturalisme hingga akhir hayatnya.

Aliran strukturalisme mendasarkan diri pada konsep utama Titchener, yaitu sensation. Konsep utama ini membawanya kepada pertentangan dengan Wundt dan konsep apperceptionnya. Berbeda dengan apperception yang merupakan hasil kesimpulan, sehingga masih memungkinkan subyektivitas, sensation adalah hasil pengalaman langsung, sehingga lebih obyektif. Lagipula proses atensi yang menjadi fungsi apperception selalu dapat dikembalikan kepda sensasi menurut Titchener.
Tiga pemikiran utama strukturalisme Titchener:

a) Identifikasi elemen sensation yang mendasar. Semua proses mental yang kompleks dapat direduksi ke dalam elemen mendasar ini. Sebagai contoh, Titchener menemukan 30.500 elemen visual, empat elemen pengecap, dsb. Titchener menggunakan metode experimental introspection untuk menggali elemen sensasi dasar ini, metode yang dipelajarinya dari Wundt. Namun di tangan Titchener, metode ini lebih elaboratif, karena sifatnya tidak hanya deskriptif tetapi juga analisis yang retrospektif.
b) Identifikasi bagaimana elemen dasar sensasi ini saling berhubungan untuk membentuk persepsi, ide dan image yang kompleks. Hubungan ini bersifat dinamis dan selalu berubah sesuai dengan berubahnya elemen dasar, jadi bukan proses asosiasi.
c) Menjelaskan bekerjanya mind. Titchener tidak setuju bahwa mind dijelaskan melalui proses psikologis (higher mental process) seperti yang dilakukan Wundt. Mind harus dijelaskan berdasarkan proses fisiologis, yaitu aktivitas sistem syaraf. Karena proses fisiologis lebih observable daripada proses psikologis.

Aliran strukturalisme tidak berkembang menjadi aliran yang besar. Aliran ini menghilang bersamaan dengan wafatnya Titchener.

F. Wajah Psikologi Memasuki Abad ke-20

Memasuki abad ke-20, psikologi berkembang dalam berbagai school of thought. Kalau Wundt meletakkan dasar bagi psikologi dengan pandangan strukturalisme, maka selanjutnya berbagai aliran utama yang muncul adalah sebagai berikut.
· Fungsionalisme
· Behaviorisme
· Psikoanalisa
· Psikologi Gestalt
· Psikologi Humanistik


bersambung ke bag_2 : Sejarah Perkembangan Psikologi di Indonesia